Arsip untuk Desember 2011




Nyanyian Cinta

“Waktuku kecil hidupku

amatlah senang

senang dipangku-dipangku dipeluknya

serta dicium-dicium dimanjanya

namanya kesayangan…”

Masihkah lagu itu dinyanyikan anak-anak sekarang? Jika pertanyaan itu diajukan ke setiap anak di seluruh pelosok negeri ini, saya yakin tidak sedikit anak-anak yang tak mampu menyanyikannya. Bukan karena mereka tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya, atau tak pernah diajarkan oleh guru di taman kanak-kanak. Tapi lebih karena lagu tersebut selama ini hanya akan membuat batin mereka menjerit.

“Lagu itu hanya mimpi, yang menciptakan juga sedang bermimpi, apalagi yang menyanyikannya, pastilah para pemimpi”. Kalimat ini pantaslah diucapkan oleh Riska Rosdiana, gadis kecil yang mati mengenaskan di kamar tidurnya setelah berkali-kali diperkosa paman dan dipukuli ibu tirinya. Bolehlah juga dilontarkan oleh Indah Sari yang kini telah berbahagia di sisi Allah, setelah berhari-hari menahan pedihnya luka bakar perbuatan sang ibu. Tinggal Lintar Syahputra, sang adik yang masih tak mengerti mengapa ibu tega membakar dirinya.

Risman pun boleh sekeras-kerasnya berteriak demikian, agar kakek yang telah menganiayanya dengan siraman air panas dan sundutan rokok mendengar. Kakek Risman mungkin sudah lupa, ia dipercaya untuk menjaga cucunya, bukan justru mengurung Risman dalam kamar tanpa makan dan minum. Siti Ihtiatus Sholehah bukan satu-satunya yang pernah merasakan lempengan setrika dengan suhu di atas 100 derajat celcius. Adalah ayahnya sendiri yang membuat Siti meringis kepanasan dan kulitnya melepuh luka bakar.

Di tahun 80-an, kita pernah mendengar kisah memilukan Ari Hanggara. Bahkan karena penganiayaan anak terbilang langka pada saat itu, kasus Ari pun sempat dibuat filmnya. Jika semua kasus penganiayaan anak saat ini dianggap luar biasa, entah sudah berapa judul dan episode film yang harus dibuat. Atau bisa jadi, sutradara dan penulis skenario pun akan kesulitan untuk lebih dulu menulis kasus yang mana. Mungkin juga dibutuhkan ribuan anak untuk melakukan casting sebagai pemeran anak-anak malang itu. Ah, jangan-jangan film-film itu takkan pernah selesai dibuat. Sebab belum selesai satu skenario ditulis, sudah ada puluhan kasus lain yang terjadi.

Akankah suatu saat penganiayaan anak menjadi sesuatu yang biasa di negeri ini? Sehingga anak-anak tak lagi mengerti kenapa mereka harus dilahirkan jika hanya untuk disakiti. Mulut-mulut kecil mereka takkan lagi mampu menyanyikan lagu cinta yang selama ini mereka dengar dan atau diajarkan guru di taman kanak-kanak. Haruskah mereka bernyanyi, “pok ame-ame/ belalang kupu-kupu/ siang dipukuli/ kalau malam disundut rokok/…”

Begitu banyak anak-anak yang tak lagi mendapat kasih sayang selayaknya anak-anak lain. Cinta dan kasih sayang adalah hak mereka, dan kewajiban orang tualah memenuhinya. Mereka butuh belaian, bukan pukulan. Butuh sentuhan, bukan cubitan melintir atau sundutan rokok. Butuh kata-kata manis, bukan makian dan bentakan lengkap dengan kata kasar. Butuh kecupan, bukan tempelengan. Butuh arahan, bukan tendangan yang menyakitkan.

Anak-anak memerlukan seorang ibu, bukan penjahat tak berperasaan yang terus menerus membuat mereka menderita. Anak-anak butuh seorang ayah, bukan gladiator yang akan membunuhnya. Mereka juga membutuhkan lingkungan dan saudara-saudara yang baik dan penuh kasih, bukan para perampok kebebasan.

Telinga mereka yang teramat lembut itu untuk mendengar ungkapan sayang, bukan makian kasar. Mata indahnya semestinya mendapatkan tatapan teduh ayah dan bunda. Kulit halus punya mereka itu untuk mendapat sentuhan lembut, bukan untuk dilukai. Rambut tipis terurainya untuk dibelai, tak untuk dijambak. Dan mereka butuh pelukan untuk menghangatkan tubuh kecilnya, bukan air mendidih atau api menyala-nyala.

Bermimpikah mereka untuk bisa disisiri setiap pagi oleh sang ibu? Salahkah mereka berharap ayah memangku dan mendongengkan cerita indah setiap malam? Atau bermimpi pun mereka tak boleh?

“Satu-satu, aku sayang ibu

dua-dua, juga sayang ayah
tiga-tiga, sayang adik kakak

satu-dua-tiga, sayang semuanya…”

Haruskah mereka menyanyikannya?

Semoga bermanfaat..

Mohon maaf..

Sempurna hanya milik Alloh..

Add a comment 20 Desember 2011

Ibu

Aku mempunyai pasangan hidup…
Saat senang aku cari pasanganku
Saat sedih aku cari ibu
Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku
Saat gagal aku ceritakan pada ibu
Saat bahagia aku peluk erat pasanganku
Saat sedih aku peluk erat ibuku
Saat liburan aku bawa pasanganku
Saat aku sibuk anak dianter ke rumah ibu
Saat sambut valentine slalu beri hadiah pada pasangan.
Saat sambut hari ibu aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”
Selalu aku ingat pasanganku
Selalu ibu yg ingat aku
Setiap saat aku akan tlpon pasanganku
Kalau inget aku akan tlpon ibu
Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:
“Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja…
bolehkah kau kirim uang untuk ibu?
yusnia Aza: Ibu tdk mnta banyak… lima puluh sebulan pun cukuplah”.
Berderai air mata jika kita mendengarnya……..
Tapi kalau ibu sudah tiada……….
Ibu aku RINDU…….AKU RIIINDDUU… SANGAT RINDU….
Berapa bnyk yang sanggup menyuapkan ibunya….
berapa bnyk yang sanggup mengelap muntah ibunya…..
berapa bnyk yang sanggup mengganti lampin ibunya…..
berapa bnyk yang sanggup….. membersihkan najis ibunya…….
berapa bnyk yang sanggup……. membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibunya….
berapa bnyk yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya….

Dan akhir sekali berapa bnyk yang sembahyang JENAZAH ibunya……

yusnia Aza: Seorang Ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani Anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga.
Si ibu bertanya ” itu burung apa yg berdiri disana ??”
“Bangau mama” anaknya menjawab dengan sopan.
Tak lama kemudian si mama bertanya lagi..
“Itu yang warna putih burung apa?”
sdikit kesal anaknya menjawab ” ya bangau mama?…”
Kemudian ibunya kembali bertanya
” Lantas itu burung apa ?” Ibunya menunjuk burung bangau tadi yg sedang terbang…
Dengan nada kesal si anak menjawab “ya bangau mama. kan sama saja!..emanknya mama gak liat dia terbang!”
Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan..”Dulu 35 tahun yang lalu aku memangku mu dan menjawab pertanyaan yg sama untuk mu sebanyak 10 kali,..sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tp kau membentak ku 2 kali..
yusnia Aza: Si anak terdiam…dan memeluk mamanya.
Pernahkah kita memikirkan apa yg telah diajarkan oleh seorang mama kepada kita? Sayangilah Bunda dgn sungguh2 krn sorga berada di telapak kaki Bunda.
Mohon ampunan jika km pernah menyakiti hati Bundamu
Dan teruskan kpd Org2 yg perlu membaca renungan ini.
*Pernah kita ngomelin Dia ?’Pernah!’
*Pernah kita cuekin Dia ? ‘Pernah!’
*Pernah kita mikir apa yg Dia pikirkan? ‘nggak!’ :/
* Sebenernya apa yg dia fikirkan ?
‘Takut’
-Takut ga bisa liat kita senyum , nangis atau ketawa lg.
- Takut ga bisa ngajar kita lagi
Semua itu karena waktu Dia singkat..
Saat bunda menutup mata , Ga akan lg ada yg cerewet.
Saat kita nangis manggil2 dia , apa yg dia bales ?
‘Dia cuma diam’
Tapi bayangannya dia tetap di samping kita dan berkata
yusnia Aza: “Anakku jgn nangis, bunda msh di sini bunda msh syg kamu.”

Sayangilah mereka sblm waktunya hbs.. ({})
Jangan kecewakan bundamu

Add a comment 20 Desember 2011

 

Desember 2011
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Halaman

Arsip

Tulisan Terkini

Komentar Terakhir

witri on Nyeri Tengkuk Jangan “Di…
sendra on Gendu2 Rasa
Sendra on Hati-Hati Pembalut

Blog Stats

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.